Dari Perantauan hingga Panggung Jerman: Perjalanan Naryo Pamenang Menemukan Makna Belajar

Seni/Budaya/Kuliner/Wisata 15 Oct 2026 06:54 • 4 min read • 5 views • By SATRIYA, ST
Dari Perantauan hingga Panggung Jerman: Perjalanan Naryo Pamenang Menemukan Makna Belajar
Dari Perantauan hingga Panggung Jerman: Perjalanan Naryo Pamenang Menemukan Makna Belajar

SURABAYA, mediasuarabudayanusantara.my.id — Perjalanan Naryo Pamenang dalam dunia seni menunjukkan bahwa proses belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Bagi seniman yang memiliki nama asli Sunaryo ini, pengalaman, pertemuan dengan banyak orang, dan proses berkesenian menjadi bagian penting dalam membentuk dirinya. Dari merantau ke Surabaya hingga tampil bersama Teater Api Indonesia di Hamburg, Jerman, ia terus menemukan pelajaran baru melalui dunia teater.

 Naryo lahir pada 14 Mei 1981 di Dusun Krembung, Desa Mojokambang, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Kabupaten Jombang. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan kebudayaan dan pewayangan. Kakek serta sejumlah kerabatnya berkecimpung dalam dunia pedalangan, sedangkan ibunya dikenal sebagai salah satu sesepuh desa di lingkungan tempat tinggalnya. Kedekatan dengan lingkungan tersebut menjadi salah satu pengenalan awal Naryo terhadap dunia seni.

Sekitar 1995–1996, Naryo merantau ke Surabaya. Di kota itu, ia memilih untuk mencari pengetahuan melalui jalur nonformal dan pengalaman langsung. Perjalanannya mempertemukan ia dengan berbagai komunitas dan orang-orang dari latar belakang berbeda, mulai dari aktivis, perupa, seniman ludruk, hingga pelaku teater. Dari pertemuan tersebut, ia memperoleh kesempatan untuk mengenal berbagai bentuk kesenian sekaligus belajar dari pengalaman orang lain.

Dalam perjalanan berkesenian, Naryo pernah mengikuti Teater Sapu Lidi dan menjalani proses di Teater Tobong sebelum bergabung dengan Teater Api. Selama hampir 12 tahun berproses bersama Teater Api, ia tidak hanya mengembangkan kemampuan di bidang seni pertunjukan, tetapi juga belajar mengenai sikap dan cara berinteraksi dengan orang lain.

Naryo meyakini bahwa teater merupakan induk dari kesenian. Melalui teater, ia belajar berbicara di depan umum, membangun sikap, dan menghargai orang lain. Baginya, teater bukan hanya tentang memerankan tokoh atau tampil di hadapan penonton. Proses latihan, memahami naskah, berdiskusi, dan bekerja bersama anggota kelompok merupakan bagian yang sama pentingnya. Pengalaman-pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa kemampuan seorang seniman tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses yang membutuhkan kesungguhan dan kedisiplinan.

Salah satu pengalaman penting dalam perjalanan Naryo adalah ketika Teater Api Indonesia mendapat undangan pertukaran seni budaya di Hamburg, Jerman, pada 2024. Dalam kegiatan tersebut, kelompoknya membawakan pertunjukan berjudul Surup. Kesempatan tampil di luar negeri itu menjadi bagian dari perjalanan berkesenian yang didahului berbagai persiapan dan latihan.

 Naryo mengingat bahwa latihan tidak selalu berlangsung dalam kondisi yang nyaman. Ia dan rekan-rekannya pernah berlatih di bawah terik matahari serta memanfaatkan ruang-ruang terbatas untuk mempersiapkan pertunjukan. Situasi tersebut menuntut mereka untuk menjaga komitmen, mengatur waktu, dan bekerja sama demi mencapai tujuan bersama.

Pengalaman itu memperkuat pandangannya bahwa keberhasilan pertunjukan tidak hanya ditentukan oleh penampilan di atas panggung. Ada proses panjang yang harus dijalani oleh setiap anggota, termasuk kesediaan untuk menghadapi keterbatasan dan tetap menjalankan tanggung jawabnya.

“Berteater kan enggak harus di panggung,” tuturnya.

Selain berproses di dunia teater, Naryo juga mengembangkan pengalamannya sebagai aktor dalam produksi film. Ia pernah terlibat dalam film Anthology of Hardness, Zona Merah, dan Bunga Kesayangan Bapak. Ia juga terlibat dalam film bertema aktivisme Reformasi berjudul ASU serta pembuatan film Parikan Suroboyo bersama Cak Kartolo dan Ning Tini.

Keterlibatannya dalam berbagai produksi tersebut memberinya kesempatan untuk mengenal proses berkesenian melalui medium yang berbeda. Meski demikian, Naryo menilai teater memiliki tantangan tersendiri. Dalam teater, aktor perlu menggali gagasan, memahami naskah, dan membangun adegan bersama pemain lain. Proses itu menuntut keterlibatan yang mendalam sekaligus mendorongnya untuk terus mengembangkan kemampuan.

Pengalaman yang diperolehnya selama berproses bersama Teater Api juga turut didokumentasikan melalui sebuah buku antologi yang ditulis bersama rekan-rekannya untuk memperingati 29 tahun kelompok tersebut. Buku itu menjadi wadah untuk membagikan pengalaman selama berkesenian dan merekam proses yang telah dilalui para anggotanya. Bagi Naryo, pengalaman bukan hanya sesuatu yang dijalani, tetapi juga dapat menjadi pengetahuan yang dibagikan kepada orang lain.

Dari berbagai proses tersebut, Naryo memandang bahwa kemauan belajar perlu disertai komitmen dan kedisiplinan. Ia mendorong generasi muda untuk membiasakan diri membaca, belajar dari orang-orang yang lebih berpengalaman, serta menghargai waktu. Menurutnya, pengetahuan akan lebih bermakna ketika seseorang bersedia menerapkannya dan terus membuka diri terhadap pengalaman baru.

“Lakukanlah apa yang kamu yakini dan keyakinan itu pasti akan menemukan sesuatu,” pesannya.

Perjalanan Naryo Pamenang memperlihatkan bahwa belajar merupakan proses yang terus berlangsung, bukan sesuatu yang berhenti pada satu tahap kehidupan. Dari lingkungan keluarga yang dekat dengan kebudayaan, pengalaman merantau, proses latihan teater, hingga kesempatan tampil di Jerman, setiap tahap memberinya pelajaran yang berbeda. Bagi Naryo, panggung memang menjadi tempat untuk menampilkan karya, tetapi proses panjang di baliknya merupakan ruang untuk terus berkembang dan memahami kehidupan. (NESSI)

 

 

Komentar (0)

Belum ada komentar.